Skip to content

Misinformasi, Disinformasi, Malinformasi: Apa Bedanya?

Ilustrasi Misinformasi, Disinformasi, Malinformasi: Apa Bedanya?

Kita sering menyebut semua informasi yang salah sebagai “hoaks”. Tapi dalam kajian literasi digital, ada istilah yang lebih spesifik untuk membedakan jenis-jenis informasi bermasalah, yaitu misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Ketiganya terdengar mirip, tapi punya perbedaan penting. Memahaminya bisa membantu kita menyikapi informasi dengan lebih tepat, termasuk saat berhadapan dengan orang yang menyebarkannya.

Dari Mana Istilah Ini Berasal?

Pembagian ini dipopulerkan oleh para peneliti, antara lain Claire Wardle dan Hossein Derakhshan, dalam laporan tentang “gangguan informasi” (information disorder) yang diterbitkan Dewan Eropa pada 2017. Sejak itu, kerangka ini banyak dipakai oleh jurnalis, pemeriksa fakta, dan pegiat literasi digital di berbagai negara.

Dua hal utama yang membedakan ketiganya adalah:

  1. Apakah informasinya benar atau salah?
  2. Apakah ada niat untuk merugikan?

Misinformasi: Salah, tapi Tidak Sengaja

Misinformasi adalah informasi yang salah atau keliru, tetapi disebarkan tanpa niat untuk menipu atau merugikan. Orang yang menyebarkannya biasanya percaya bahwa informasi itu benar.

Contoh:

  • Seseorang membagikan tips kesehatan yang ternyata tidak terbukti secara ilmiah, karena ia sungguh-sungguh ingin membantu.
  • Teman meneruskan kabar sebuah jalan ditutup, padahal informasinya sudah kedaluwarsa.
  • Kerabat membagikan foto bencana lama yang ia kira terjadi hari ini.

Misinformasi sering terjadi di grup keluarga atau pertemanan. Niatnya baik, tapi dampaknya tetap bisa merugikan karena informasi salah ikut tersebar.

Disinformasi: Salah dan Sengaja

Disinformasi adalah informasi salah yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk menipu, memengaruhi opini, atau merugikan pihak tertentu.

Contoh:

  • Berita palsu yang dibuat untuk menjatuhkan lawan politik.
  • Situs tiruan media terkenal yang memuat kabar bohong demi mendapat klik dan uang iklan.
  • Kampanye terorganisir yang menyebarkan klaim palsu soal produk pesaing.
  • Video yang sengaja disunting untuk memelintir ucapan seseorang.

Bedanya dengan misinformasi terletak pada niat. Pembuat disinformasi tahu bahwa informasinya tidak benar.

Menariknya, disinformasi bisa berubah menjadi misinformasi. Ketika berita palsu yang sengaja dibuat itu dibagikan oleh orang-orang yang percaya dan tidak tahu bahwa itu palsu, penyebarannya di tangan mereka termasuk misinformasi.

Malinformasi: Benar, tapi Dipakai untuk Merugikan

Nah, ini yang sering terlewat. Malinformasi adalah informasi yang sebenarnya benar atau berdasarkan fakta, tetapi disebarkan dengan tujuan merugikan orang lain.

Contoh:

  • Menyebarkan data pribadi seseorang, seperti alamat rumah atau nomor telepon, untuk mengintimidasi. Praktik ini dikenal sebagai doxing.
  • Membocorkan percakapan pribadi seseorang untuk mempermalukannya.
  • Mengangkat kembali kesalahan lama seseorang di luar konteks untuk menyerangnya.
  • Menyebarkan identitas korban dalam suatu kasus sehingga ia mendapat stigma.

Meskipun informasinya benar, penyebarannya bisa melanggar privasi, menyakiti, dan menimbulkan bahaya nyata.

Tabel Perbandingan Singkat

Jenis Informasinya Niat Merugikan
Misinformasi Salah Tidak ada
Disinformasi Salah Ada
Malinformasi Benar Ada

Kenapa Perbedaan Ini Penting?

1. Cara Menyikapinya Berbeda

Menghadapi teman yang menyebarkan misinformasi butuh pendekatan yang lembut, karena ia tidak bermaksud jahat. Cukup luruskan dengan sopan dan berikan sumber yang benar.

Sementara disinformasi dan malinformasi yang terorganisir biasanya perlu dilaporkan ke platform, atau bahkan ke pihak berwenang jika melanggar hukum.

2. Membantu Kita Lebih Kritis

Dengan memahami bahwa tidak semua informasi berbahaya itu palsu, kita jadi lebih waspada. Informasi yang benar pun bisa dipakai untuk menyakiti orang lain jika disebarkan dengan niat buruk.

3. Mendorong Empati dan Tanggung Jawab

Kita jadi sadar bahwa siapa pun bisa menjadi penyebar misinformasi tanpa sadar. Karena itu, budaya memeriksa sebelum membagikan perlu dibangun bersama, bukan sekadar saling menyalahkan.

Bagaimana Agar Tidak Ikut Menyebarkan?

  1. Periksa kebenaran informasi sebelum membagikan, terutama yang memancing emosi.
  2. Cek sumber dan tanggal dari informasi yang kamu terima.
  3. Gunakan situs cek fakta untuk klaim yang meragukan.
  4. Hormati privasi orang lain. Jangan membagikan data pribadi, tangkapan layar percakapan pribadi, atau identitas korban, meski informasinya benar.
  5. Pikirkan dampaknya. Tanyakan pada diri sendiri: apakah membagikan ini akan membantu, atau justru menyakiti seseorang?

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah hoaks sama dengan disinformasi?

Dalam percakapan sehari-hari, hoaks sering dipakai untuk menyebut semua informasi palsu. Dalam kerangka gangguan informasi, hoaks yang sengaja dibuat untuk menipu termasuk disinformasi, sedangkan hoaks yang dibagikan orang tanpa tahu bahwa itu palsu termasuk misinformasi.

Kenapa malinformasi berbahaya padahal informasinya benar?

Karena penyebarannya bertujuan menyakiti atau merugikan. Data pribadi, percakapan privat, atau masa lalu seseorang yang disebarkan tanpa izin bisa memicu perundungan, ancaman, hingga bahaya fisik.

Apa itu doxing?

Doxing adalah tindakan mengumpulkan dan menyebarkan informasi pribadi seseorang, seperti alamat rumah, nomor telepon, atau tempat kerja, tanpa izin. Doxing merupakan salah satu contoh malinformasi yang paling sering terjadi.

Bagaimana cara menegur teman yang menyebarkan misinformasi?

Gunakan pesan pribadi, sampaikan dengan sopan, dan sertakan sumber yang kredibel. Ingat bahwa ia kemungkinan besar tidak bermaksud buruk, jadi pendekatan yang ramah biasanya lebih efektif.

Apakah satir dan parodi termasuk disinformasi?

Satir dan parodi pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk menipu. Namun, konten satir bisa berubah menjadi misinformasi jika dibagikan tanpa konteks dan dianggap sebagai fakta oleh orang yang membacanya.

Apa peran media dalam melawan gangguan informasi?

Media yang kredibel berperan memverifikasi informasi, menyajikan konteks, mengoreksi kesalahan, dan menyediakan rubrik cek fakta. Pembaca juga punya peran dengan memilih sumber yang bertanggung jawab dan ikut menyebarkan klarifikasi.

Mulai dari mana untuk meningkatkan literasi digital?

Mulailah dari kebiasaan sederhana: membaca berita sampai habis, mengecek sumber dan tanggal, membandingkan dengan media lain, serta berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu yang memancing emosi.

Apakah judul clickbait termasuk misinformasi?

Tidak selalu. Clickbait adalah judul yang dibuat berlebihan untuk menarik klik. Namun, jika judulnya menyesatkan dan tidak sesuai isi, pembaca yang hanya membaca judul bisa menangkap informasi yang keliru, sehingga clickbait dapat ikut memicu misinformasi.

Apakah informasi yang sudah dikoreksi masih bisa menyebar?

Bisa. Informasi keliru kadang terus beredar meski sudah ada koreksi, karena tangkapan layar versi lama masih tersimpan dan dibagikan ulang. Itulah pentingnya ikut menyebarkan koreksi ke tempat yang sama dengan tempat informasi keliru itu dibagikan.

Apakah grup percakapan keluarga rawan misinformasi?

Cukup rawan, karena pesan dibagikan oleh orang yang kita percaya dan sering diteruskan tanpa sumber yang jelas. Membiasakan diri menyertakan tautan sumber saat membagikan informasi bisa membantu menjaga grup tetap sehat.

Kesimpulan

Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan tanpa niat buruk. Disinformasi adalah informasi salah yang sengaja dibuat untuk menipu atau merugikan. Sementara malinformasi adalah informasi benar yang disebarkan dengan tujuan merugikan.

Ketiganya sama-sama bisa merusak ruang digital kita. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih bijak dalam menerima, menyikapi, dan membagikan informasi. Ingat, jari yang cepat membagikan sebaiknya diiringi kepala yang tenang untuk memeriksa.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan